Kunjungan Buya Yahya di STAI Imam Syafi’i Cianjur

0
173

STAI Imam Syafi’i Cianjur kedatangan tamu agung dan istimewa. Beliau adalah KH.Yahya Zaenal Maarif atau yang lebih dikenal dengan pangilan Buya Yahya, Beliau merupakan salah satu ulama’ ahlussunnah wal jamaah terpandang dari kota udang Cirebon yang sekaligus menjadi pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah.

Kedatangan Buya Yahya yang kali kedua ini bertujuan untuk menghadiri undangan sebagai pembicara dalam peringatan maulid Nabi Besar Muhammad Saw. yang diselenggarakan oleh Majelis Sayyidul Kaunain, majelis di bawah naungan STAI Imam Syafi’i.

Selepas sholat jum’at, para mahasiswa berkumpul untuk menyambut kedatangan Buya Yahya, mereka berbaris rapi dan melantunkan shalawat badar, tanda selamat datang untuk beliau.
Sesampainya di STAI Imam Syafi’i , Buya Yahya beserta rombongan yang terdiri dari keluarga, kerabat serta tim media Al Bahjah, disambut ramah oleh para masyayikh STAI Imam Syafi’i, Syaikh Mar’i, Syaikh Dr Muhammad Darwish dan beberapa dosen lainnya.

Sore harinya, para mahasiswa diberi kesempatan untuk bertatap muka secara langsung dengan Buya Yahya sekaligus mendengarkan taushiah beliau secara khusus di masjid jami’ Imam Syafi’i, kesempatan emas ini tidak disia-siakan, para mahasiswa segera berduyun-duyun berkumpul di masjid, berharap mendapat siraman ilmu dan berkah dari beliau.

Didampingi Syaikh Mar’i Ar Rosyid , Syaikh Syadi Arbas dan Syaikh Abdurrahman An Naim, majlis khusus bersama Buya Yahya sore itu disambut antusiasme tinggi para mahasiswa.

Dalam pesannya, beliau amat mengapresiasi dan mengacungi jempol atas keberadaan STAI Imam Syafii di Indonesia sebagai perguruan tinggi dengan prinsip dan manhaj keilmuan yang masih murni serta terjaga.

Beliau mengeluhkan betapa di zaman sekarang , teramat sedikit perguruan tinggi Islam yang benar-benar berlandaskan asas salaf, asas ahlus sunnah wal jamaah, banyak kampus dan universitas yang digunakan hanya untuk mencari ijazah, sudah sangat jarang menemukan murid mendoakan guru, atau sebaliknya, juga tidak ada lagi semangat keilmuan apalagi adab dalam mencari ilmu.

“Kalian harus banyak bersyukur, bila perlu seluruh Indonesia juga harus ikut bersyukur karena Jamiah ( perguruan tinggi red. ) Imam Syafi’i ini memiliki manhaj yang kuat, pendidikan yang unggul, yang berbeda dengan perguruan tinggi Islam lain di Indonesia” ujar beliau.

Selain menyatakan bahwa dosen dan masyayikh Jamiah Imam Syafi’i adalah orang-orang sholeh dan kompeten dalam bidangnya, Buya Yahya juga mengagumi sosok Prof. Dr. M. Hasan Hitou, pendiri Jamiah Imam Syafi’i dan Yayasan Pusat Ilmu Keislaman internasional.

Beliau mengaku pada awalnya meragukan keberadaan Jamiah Imam Syafi’i, dikarenakan memang saat itu teramat banyak perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan nafas pendidkan Islam. Namun, semua keraguan itu hilang tatkala Buya Yahya mengetahui bahwa pendiri Jamiah Imam Syafii adalah Syaikh Prof Dr Hasan Hitou, salah satu ulama’ terkemuka dalam ilmu fiqih dan ushuluddin dengan akidah yang kuat dan tidak diragukan lagi kemashuranya di kalangan ulama’ dunia.

Di akhir taushiahnya beliau berpesan kepada para mahasiswa agar menguatkan tekad dan belajar sebanyak mungkin.

“Kalian jangan seperti ayam yang mati di lumbung padi, manfaatkan waktu sebaik-baiknya , mumpung para masyayikh masih disini dan belum bertugas ke tempat lain”

“Jamiah ini milik kalian, kalian harus menjaganya, tanpa bermaksud sekedar berlebihan memuji, saya katakan Indonesia butuh banyak kampus dan universitas seperti ini” ujar Buya Yahya sembari berdoa, menutup pertemuan sore itu.

( A.I )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here